SULTRA - Munculnya kembali wacana sekolah online memicu beragam respons dari masyarakat. Setelah pengalaman pembelajaran jarak jauh selama pandemi, banyak pihak kini lebih kritis dalam menilai efektivitas sistem pendidikan berbasis daring.
Sebagian melihatnya sebagai inovasi yang relevan dengan perkembangan teknologi, namun tidak sedikit yang menilai bahwa sekolah online masih menyisakan banyak persoalan mendasar.
Baca juga: Libur Sekolah Hampir Usai! Ini Rekomendasi Toko Buku dan Peralatan Sekolah di Kendari
Apa Itu Sekolah Online?
Sekolah online merujuk pada sistem pembelajaran yang dilakukan secara daring menggunakan platform digital, tanpa kehadiran fisik di ruang kelas.
Model ini biasanya memanfaatkan aplikasi video conference seperti Zoom dan Google Meet, platform e-learning, hingga materi digital interaktif. Dalam teori, konsep ini menawarkan fleksibilitas. Tapi, praktiknya tidak selalu semulus yang dibayangkan.
Alasan Wacana Ini Kembali Muncul
Akhir-akhir ini, terdapat rumor bahwa sekolah online akan kembali diaktifkan, entah untuk alasan apa. Beberapa faktor yang mendorong munculnya kembali wacana ini antara lain:
- Perkembangan teknologi digital
- Kebutuhan fleksibilitas dalam belajar
- Upaya efisiensi biaya operasional pendidikan
- Pengalaman selama pandemi COVID-19
- Efisiensi
Namun, pengalaman tersebut juga menjadi alasan utama munculnya kritik.
Kontra dari Masyarakat terhadap Sekolah Online
Tidak semua pihak menyambut wacana ini dengan antusias. Kontra yang dilontarkan masyarakat, khususnya orang tua, dilatarbelakangi oleh beberapa faktor.
1. Efektivitas Pembelajaran Dinilai Menurun
Banyak orang tua dan siswa merasa bahwa pemahaman materi saat pembelajaran online tidak sebaik saat tatap muka.
Beberapa kendala yang sering muncul:
- Sulit fokus
- Interaksi terbatas
- Kurangnya pengawasan langsung
2. Ketimpangan Akses Teknologi
Tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap perangkat dan internet. Masalah yang sering terjadi adalah jaringan internet tidak stabil, keterbatasan perangkat (HP/laptop), serta biaya kuota yang tinggi. Ini membuat sekolah online berpotensi memperlebar kesenjangan pendidikan.
3. Beban Orang Tua Bertambah
Selama pembelajaran daring, banyak orang tua harus ikut terlibat lebih aktif.
Mulai dari mendampingi anak belajar, menyediakan fasilitas, serta mengatur waktu belajar di rumah. Tidak semua orang tua memiliki waktu atau kemampuan untuk melakukan hal ini.
Baca juga: Simak Lokasi, Fasilitas, dan Syarat Masuk Sekolah Rakyat di Sulawesi Tenggara
4. Minim Interaksi Sosial
Sekolah bukan hanya soal akademik, tapi juga interaksi sosial. Sekolah online akan mengurangi kemampuan siswa bersosialisasi sehingga menghambat kemampuan komunikasi, rasa kebersamaan, dan empati sosial yang bisa meningkatkan karakter.
5. Potensi Ketergantungan pada Gadget
Belajar melalui perangkat digital dalam jangka panjang bisa meningkatkan waktu layar (screen time). Hal ini berdampak pada kelelahan mata, gangguan konsentrasi, serta ketergantungan pada gadget.
Apakah Sekolah Online Bisa Jadi Solusi?
Sekolah online bukan sepenuhnya buruk, tapi juga bukan solusi instan. Beberapa pengamat pendidikan memberikan opini untuk menyeimbangkan sekolah online dan offline, menyesuaikan dengan kondisi daerah, serta memastikan kesiapan infrastruktur. Tanpa itu, sekolah online hanya akan jadi konsep yang terdengar modern, tapi sulit diterapkan secara merata.
Wacana sekolah online memang menawarkan fleksibilitas dan kemudahan dalam akses pendidikan. Namun, berbagai kontra dari masyarakat menunjukkan bahwa masih banyak aspek yang perlu diperbaiki, terutama terkait efektivitas belajar, akses teknologi, dan interaksi sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis