Minggu, 22 MARET 2026 • 18:54 WIB

Ada Berapa Suku di Sulawesi Tenggara?

Author

Suku Buton dari Sulawesi Tenggara. (Dok. Wikipedia) (Mufida)

SULTRA - Provinsi Sulawesi Tenggara dikenal sebagai wilayah yang kaya akan keberagaman budaya. Berbagai suku di Sulawesi Tenggara hidup berdampingan dan membentuk identitas sosial yang unik. Keberagaman ini tidak hanya terlihat dari bahasa dan adat istiadat, tetapi juga dari tradisi, kesenian, hingga pola kehidupan masyarakat.

Memahami suku-suku yang ada di Sultra menjadi penting untuk melihat bagaimana budaya lokal tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.

Baca juga: Malam Kajiria di Wakatobi, Tradisi Akhir Ramadhan di Sultra

Keberagaman Suku di Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara dihuni oleh berbagai suku asli maupun pendatang. Setiap suku memiliki ciri khas tersendiri yang memperkaya budaya daerah.

1. Suku Tolaki

Suku Tolaki merupakan salah satu suku terbesar di Sulawesi Tenggara, terutama di wilayah Konawe dan sekitarnya dan mendominasi wilayah Sultra. Suku Tolaki memiliki adat istiadat yang kuat, sistem kekerabatan yang terstruktur serta tradisi upacara adat yang masih dilestarikan.

2. Suku Buton

Suku Buton berasal dari wilayah Kepulauan Buton dan dikenal memiliki sejarah kerajaan yang kuat. Suku Buton dikenal juga akan budaya maritimnya, sistem pemerintahan tradisional (Kesultanan Buton), serta kesenian dan tradisi yang beragam. 

3. Suku Muna

Suku Muna banyak mendiami Pulau Muna dan sekitarnya. Suku Muna memiliki bahasa daerah dan aksen yang khas, tradisi lokal yang masih dijaga, dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.

4. Suku Moronene

Suku ini banyak ditemukan di wilayah Bombana dan sekitarnya. Kehidupan suku Moronene dekat dengan alam karena memiliki tradisi berburu dan bertani yang masih kuat. Nilai-nilai adat yang mereka terapkan juga masih kuat.

5. Suku Bajo

Suku Bajo dikenal sebagai “pengembara laut” dan banyak tinggal di wilayah pesisir. Rumah-rumah mereka terapung di atas laut sehingga memiliki kemampuan melaut yang tinggi serta budaya yang sangat terkait dengan ekosistem laut.

Baca juga: Festival Perempuan Bajo 2025: Merayakan Tradisi, Laut, dan Kehidupan di Desa Mola Nelayan Bhakti

Interaksi Budaya dan Kehidupan Sosial

Keberagaman suku di Sulawesi Tenggara tidak menyebabkan perpecahan, justru menjadi kekuatan dalam kehidupan sosial. Di ibukota Sulawesi Tenggara yakni Kendari, berbagai suku ini hidup berdampingan. Interaksi antar suku menciptakan toleransi budaya, kerja sama dalam kehidupan sehari-hari, hingga perpaduan tradisi yang unik.

Masyarakat Sultra dikenal mampu menjaga harmoni meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda. Di tengah modernisasi, suku-suku di Sulawesi Tenggara tetap mempertahankan identitas budaya mereka.

Festival budaya yang diadakan di berbagai daerah seperti di Wakatobi, Buton, dan Muna merupakan contoh pelestarian identitas budaya. Selain itu, terdapat pendidikan berbasis kearifan lokal pengembangan pariwisata budaya melalui museum dan festival. 

Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga generasi muda agar tetap mengenal dan menghargai budaya sendiri. Tantangan tersebut menjadi fokus masyarakat khususnya orang tua, para tetua di kampung, guru di sekolah, hingga pemerintah untuk tetap memasukkan unsur tradisi dan budaya dalam setiap program yang diadakan dan kehidupan sehari-hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU