Selasa, 17 MARET 2026 • 14:04 WIB

Menyambut Hari Kemenangan, Menilik Suasana Malam Takbiran di Kendari

Author

Ilustrasi pawai obor. (Freepik/ArthurHidden) (Mufida)

SULTRA - Malam takbiran selalu memberikan suasana istimewa. Di Kendari, suasana itu terasa semakin hidup ketika gema takbir mulai terdengar dari berbagai penjuru kota. Suasana malam takbiran di Kendari bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi, kebersamaan, dan pelepasan rindu setelah sebulan penuh menjalani Ramadan. Bagi warga lokal, ini adalah momen pulang. Bagi perantau, ini adalah momen yang sering hanya bisa dirasakan dari kejauhan. 

Di Kendari, malam takbiran diwarnai dengan peningkatan aktivitas masyarakat di berbagai titik. Anak-anak, remaja, hingga orang tua turut ambil bagian, baik dalam kegiatan keagamaan maupun tradisi lokal yang sudah berlangsung turun-temurun.

Suasana yang tercipta bukan hanya meriah, tetapi juga hangat. Ada rasa kebersamaan yang jarang muncul di hari biasa.

Tradisi Pawai Obor dan Takbir Keliling Warga

Salah satu tradisi yang paling dinanti adalah pawai obor dan takbir keliling. Di beberapa kawasan di Kendari, warga masih mempertahankan tradisi ini sebagai simbol semangat menyambut Idulfitri.

Rombongan biasanya berjalan kaki sambil membawa obor, melantunkan takbir, dan melewati jalan-jalan lingkungan hingga pusat kota. Selain itu, iring-iringan kendaraan dengan pengeras suara juga menjadi bagian dari takbir keliling yang lebih modern.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Kendari. Di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti di Pulau Jawa dan Sumatra, tradisi takbir keliling juga berlangsung dengan ciri khas masing-masing, mulai dari penggunaan bedug hingga festival lampion.  

Baca juga: Ramadhan Makin Tertib! Rekayasa Lalu Lintas di Kendari Dilakukan di Kawasan Eks MTQ

Pusat Keramaian Malam Takbiran di Kendari

Beberapa titik di Kendari menjadi pusat keramaian yang hampir selalu dipadati warga setiap malam takbiran. Kawasan Eks MTQ Kendari menjadi salah satu lokasi utama berkumpulnya masyarakat. Area ini sering digunakan untuk kegiatan keagamaan dan menjadi titik temu warga dari berbagai wilayah.

Selain itu, Jalan Saranani, Jalan MT Haryono, dan kawasan sekitar pusat kota juga dipenuhi kendaraan dan pejalan kaki yang ingin merasakan suasana malam takbiran secara langsung.

Pada malam takbiran, kepadatan terlihat meningkat terutama setelah pukul 20.00 WITA, ketika masyarakat mulai keluar untuk berkeliling kota.

Gema Takbir yang Khusyuk di Masjid-Masjid Besar

Masjid-masjid besar seperti Masjid Raya Al-Kautsar menjadi pusat kegiatan ibadah dengan gema takbir yang berlangsung khusyuk. Banyak warga memilih menghabiskan malam dengan berzikir, mengikuti takbiran bersama, atau sekadar berdiam diri dalam suasana religius.

Perpaduan antara keramaian di luar dan ketenangan di dalam masjid menciptakan keseimbangan yang khas. Ini menjadi pengingat bahwa di balik perayaan, ada makna spiritual yang tetap dijaga.

Titik Rawan Kemacetan dan Tips Aman Berkendara

Seiring meningkatnya aktivitas masyarakat, lalu lintas di Kendari pada malam takbiran juga mengalami lonjakan signifikan.

Beberapa titik yang rawan kemacetan antara lain:

Baca juga: Hindari Macet! Ini Titik Padat Mudik di Sulawesi Tenggara

  • kawasan Eks MTQ
  • Jalan Saranani
  • Jalan MT Haryono
  • akses menuju pusat kota dan area masjid besar

Untuk menghindari kendala di jalan, masyarakat disarankan menggunakan kendaraan secukupnya, menghindari konvoi berlebihan, serta tetap mematuhi aturan lalu lintas. Bagi pejalan kaki, penting untuk tetap berada di area aman dan tidak mengganggu arus kendaraan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bidhumas Polda Sultra

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU