Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 13:13 WIB

Mengenal Shio, Simbol, dan Kepercayaan Pada Perayaan Imlek di Sultra

Author

Ilustrasi angpao imlek. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Shio, Simbol, dan Kepercayaan dalam Perayaan Imlek bukan hanya bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa, tetapi juga telah menjadi pengetahuan budaya yang dikenal luas, termasuk di Sulawesi Tenggara. Setiap perayaan Imlek, pembahasan soal shio, warna keberuntungan, hingga simbol-simbol tertentu kembali mencuat dan menarik perhatian lintas etnis.

Di wilayah seperti Kendari, Baubau, hingga Wakatobi, tradisi Imlek dijalani secara terbuka dan berdampingan dengan budaya lokal. Meski tidak semua masyarakat mempercayainya secara harfiah, shio dan simbol Imlek tetap dipahami sebagai bagian dari warisan budaya yang sarat makna.

Baca juga: Mengenal Makanan Khas Imlek, dari Makna Simbolik hingga Favorit di Sultra

Apa Itu Shio dalam Tradisi Imlek?

Shio merupakan sistem penanggalan Tionghoa yang menggunakan siklus 12 hewan, seperti Tikus, Kerbau, Macan, hingga Babi. Setiap shio dipercaya merepresentasikan karakter, kecenderungan sifat, serta gambaran peruntungan seseorang dalam satu tahun tertentu.

Pada perayaan Imlek tahun 2026, masyarakat Tionghoa memasuki Tahun Shio Kuda. Shio Kuda kerap dimaknai sebagai simbol energi, kebebasan, kerja keras, dan keberanian mengambil keputusan. Tahun ini sering diasosiasikan dengan dinamika tinggi, perubahan cepat, serta dorongan untuk bergerak lebih mandiri dan progresif.

Simbol-Simbol Imlek dan Maknanya

Selain shio, perayaan Imlek juga identik dengan berbagai simbol visual yang memiliki makna filosofis:

  1. Warna merah, melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan perlindungan
  2. Lampion, simbol penerangan jalan hidup dan harapan baru
  3. Angpao, bukan sekadar uang, tetapi doa dan restu untuk penerima
  4. Aksara Fu, lambang keberuntungan dan rezeki yang berlimpah

Simbol-simbol ini mudah ditemui di kawasan pecinan, klenteng, hingga ruang publik di Sulawesi Tenggara saat Imlek berlangsung.

Baca juga: Mengenal Gua Lapahia di Sultra, Surga Cave Diving Alami Favorit Wisatawan Asing

Kepercayaan dalam perayaan Imlek, seperti pantangan berkata kasar, larangan menyapu rumah di hari pertama, atau anjuran mengenakan warna tertentu, dipahami sebagai simbol etika dan harapan baik, bukan aturan mutlak. Di Sultra, banyak keluarga Tionghoa menjalankan kepercayaan ini secara moderat. Tradisi dijaga, tetapi tetap menyesuaikan dengan kehidupan modern dan keberagaman budaya sekitar.

Menariknya, Imlek di Sulawesi Tenggara tidak berdiri sendiri. Perayaan ini berbaur dengan budaya lokal, menciptakan suasana yang inklusif. Masyarakat non-Tionghoa ikut menyaksikan, berkunjung, bahkan menikmati sajian khas Imlek tanpa harus memeluk kepercayaan di baliknya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU