Selasa, 03 FEBRUARI 2026 • 13:28 WIB

6 Cerita Rakyat Populer dari Sulawesi Tenggara, Dari Gurita Penjaga Laut hingga Pangeran dari Bulan

Author

Cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara memiliki filosofi dan makna yang dalam. (Freepik/brgfx) (Mufida)

SULTRA - Cerita rakyat Sulawesi Tenggara merupakan warisan budaya lisan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat pesisir dan daratan, terutama di wilayah Buton, Wakatobi, Muna, dan Tolaki. Cerita-cerita ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pewarisan nilai moral, identitas kolektif, dan cara pandang masyarakat terhadap alam, kekuasaan, serta relasi manusia.

Dalam banyak kisah, tokoh manusia berinteraksi dengan makhluk laut, dunia langit, dan alam gaib. Hal ini mencerminkan kuatnya hubungan spiritual masyarakat Sulawesi Tenggara dengan lingkungan sekitarnya.

Pengertian Cerita Rakyat dan Perannya dalam Budaya Lokal

Cerita rakyat adalah kisah tradisional yang diwariskan secara lisan dan menjadi bagian dari sistem pengetahuan masyarakat. Di Sulawesi Tenggara, cerita rakyat berperan sebagai media pendidikan nilai adat, etika sosial, serta penghormatan terhadap alam dan leluhur.

Cerita-cerita ini kerap digunakan untuk menanamkan pesan tentang tanggung jawab, kesetiaan, keberanian, dan batas antara manusia dan alam.

Baca juga: Mau Liburan ke Wakatobi? Catat Waktu Terbaiknya!

Asal-usul Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara

Cerita rakyat Sulawesi Tenggara lahir dari masyarakat maritim yang hidup berdampingan dengan laut serta masyarakat agraris yang menjunjung tinggi adat. Karena itu, banyak cerita mengandung unsur laut, makhluk penjaga alam, hingga tokoh yang berasal dari dunia lain.

Tradisi lisan ini berkembang jauh sebelum masa kolonial dan menjadi sarana utama masyarakat dalam merekam sejarah lokal dan nilai kehidupan.

Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara yang Paling Dikenal dan Pesan Moral di Dalamnya

Untu Wa Ode, Gurita Penjaga Laut Wakatobi
Untu Wa Ode adalah cerita rakyat dari Wakatobi tentang sosok gurita raksasa yang dipercaya sebagai penjaga laut. Ia digambarkan melindungi wilayah perairan dari perusakan dan keserakahan manusia. Cerita ini mengajarkan pentingnya menjaga laut dan hidup selaras dengan alam. Pesan moralnya menekankan bahwa laut bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang hidup yang harus dihormati.

La Onto-ontolu, Pangeran dari Bulan (Buton)
La Onto-ontolu adalah kisah dari Buton tentang seorang pangeran dari bulan yang turun ke bumi dengan menyamar sebagai telur. Ia kemudian menetas dan tumbuh menjadi manusia. Cerita ini sarat makna simbolik tentang asal-usul kekuasaan, kepemimpinan, dan legitimasi raja. Pesan moralnya menekankan bahwa pemimpin sejati tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari proses dan ujian kehidupan.

Wa Indo-Indodiu, Ibu yang Menjelma Putri Duyung
Cerita Wa Indo-Indodiu mengisahkan seorang ibu yang karena tekanan hidup dan pengorbanan, akhirnya menjelma menjadi putri duyung dan hidup di laut. Kisah ini mencerminkan penderitaan perempuan, kasih ibu, dan keterikatan emosional dengan anak. Pesan moralnya berkaitan dengan empati, pengorbanan, dan dampak ketidakadilan dalam keluarga dan masyarakat.

Legenda Wekoila (Buton)
Wekoila dikenal sebagai sosok perempuan bijaksana yang memiliki peran penting dalam tatanan sosial masyarakat Buton. Cerita ini mengajarkan nilai keadilan, kecerdasan, dan keberanian dalam mengambil keputusan, sekaligus menegaskan peran perempuan dalam sejarah lokal.

Kisah La Ode dan Wa Ode (Muna–Buton)
Cerita ini menggambarkan nilai kesetiaan, kehormatan keluarga, dan tanggung jawab sosial. Tokoh-tokohnya sering dihadapkan pada konflik antara kepentingan pribadi dan adat, yang mencerminkan kuatnya peran norma sosial dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Legenda Asal-usul Suku Tolaki
Cerita ini mengisahkan asal mula masyarakat Tolaki dan hubungan mereka dengan alam. Nilai utama yang ditonjolkan adalah keseimbangan antara manusia dan lingkungan, serta pentingnya hidup selaras dengan adat dan alam sekitar.

Baca juga: Filosofi Rumah Adat di Sulawesi Tenggara, Jejak Identitas Suku Tolaki, Buton, hingga Muna

Pelestarian cerita rakyat Sulawesi Tenggara kini dilakukan melalui pendokumentasian oleh Balai Bahasa Sulawesi Tenggara dan Kantor Bahasa di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Cerita-cerita rakyat telah diterbitkan dalam bentuk buku, bahan ajar muatan lokal, serta adaptasi cerita anak.

Selain itu, cerita rakyat juga mulai diangkat dalam pertunjukan seni, festival budaya, dan konten literasi digital sebagai upaya agar kisah-kisah ini tetap hidup dan dipahami generasi muda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU