Kamis, 22 JANUARI 2026 • 21:54 WIB

Bukan Sekadar Benteng, Inilah Wisata Sejarah di Sulawesi Tenggara yang Membentuk Identitas Daerah

Author

Benteng Wolio Sulawesi Tenggara. (Dok. ANTARA) (Mufida)

SULTRA - Wisata sejarah merupakan bentuk perjalanan yang berfokus pada kunjungan ke situs bersejarah dan peninggalan masa lalu untuk tujuan edukasi dan pelestarian budaya. Di Indonesia bagian timur, wisata sejarah di Sulawesi Tenggara memiliki posisi penting karena wilayah ini menyimpan jejak kerajaan lokal, penyebaran Islam, serta pengaruh kolonial yang masih terlihat hingga kini. Selain memperkaya pengetahuan, wisata sejarah juga memperkuat identitas daerah dan kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya.

Sejarah Singkat Sulawesi Tenggara

Sulawesi Tenggara memiliki sejarah panjang yang dibentuk oleh berbagai kerajaan dan komunitas adat. Kesultanan Buton menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di kawasan ini, diikuti oleh masyarakat Muna, Tolaki, dan Wakatobi dengan sistem adatnya masing-masing. Pada masa kolonial, Belanda menjadikan beberapa wilayah sebagai pusat administrasi dan pertahanan. Interaksi antara budaya lokal, Islam, dan kolonialisme inilah yang membentuk karakter sejarah Sulawesi Tenggara.

Baca juga: Kenali Situs Sejarah di Sulawesi Tenggara, Dari Benteng Kerajaan hingga Jejak Kolonial yang Masih Bertahan

Daftar Wisata Sejarah di Sulawesi Tenggara

1. Benteng Keraton Buton (Baubau)
Benteng ini merupakan salah satu benteng terluas di dunia dan menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Buton. Kawasan ini kini menjadi destinasi wisata sejarah utama di Sulawesi Tenggara. Benteng ini menjadi saksi sejarah dari pusat kekuasaan kesultanan, simbol pertahanan dan tata kota tradisional serta jejak penyebaran Islam di kawasan timur Indonesia.

2. Istana Malige (Baubau)
Malige adalah istana Sultan Buton yang mencerminkan filosofi kehidupan dan struktur pemerintahan tradisional. Bangunannya masih terawat dan berfungsi sebagai objek wisata edukatif.

3. Benteng Liya (Wakatobi)
Benteng Liya merupakan peninggalan masyarakat lokal yang digunakan sebagai sistem pertahanan dari ancaman luar. Lokasinya menyatu dengan lanskap alam Wakatobi.

Baca juga: Makna Tari Lulo dari Sulawesi Tenggara, Tarian Persatuan yang Terus Hidup di Tengah Perubahan Zaman

4. Situs Sejarah Laiwui (Kendari)
Kawasan Laiwui menjadi penanda awal perkembangan Kendari pada masa kolonial Belanda. Situs ini mencerminkan perubahan fungsi wilayah dari komunitas adat menjadi pusat administrasi modern.

5. Situs Permukiman dan Makam Kuno di Muna
Wilayah Muna menyimpan berbagai situs pemukiman lama dan makam tokoh adat yang menunjukkan struktur sosial dan budaya masyarakat setempat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU