Ilustrasi warga menonton layar tancap. (Freepik/AI) (Mufida)
SULTRA - Event Layar Benteng merupakan kegiatan pemutaran film karya sineas lokal Sulawesi Tenggara. Mengusung konsep ruang sinema terbuka, event Layar Benteng resmi dimulai di wilayah Baubau dan sekitarnya. Program ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggabungkan pengalaman wisata budaya.
Pembukaan kegiatan digelar di kawasan Benteng Keraton Wolio pada Sabtu malam, sekaligus menjadi titik awal rangkaian pemutaran film yang akan berlangsung di enam lokasi berbeda di Baubau, Buton, dan Buton Selatan.
Baca juga: Bola Pinoama: Film Pendek dari Baubau yang Hangatkan Hati Lewat Bahasa Daerah
Berbeda dari konsep bioskop konvensional, event Layar Benteng menghadirkan pengalaman menonton film di ruang terbuka yang sarat nilai sejarah dan budaya. Lokasi pemutaran tidak dipilih secara acak, melainkan mencakup kawasan benteng dan kampung adat yang memiliki nilai historis kuat.
Enam titik pemutaran tersebut meliputi:
Selama rangkaian kegiatan, sekitar 18 film akan ditayangkan, terdiri dari genre dokumenter dan fiksi. Seluruh karya tersebut merupakan hasil produksi sineas daerah, yang selama ini memiliki ruang terbatas untuk menjangkau penonton.
Pada malam pembukaan, tiga film yang menjadi pembuka antara lain:
Ketua panitia, Andhy Loppes Eba, menjelaskan bahwa event Layar Benteng berakar dari program lama komunitas Seribu Benteng Production yang pernah aktif menggelar pemutaran film keliling.
Baca juga: Festival Film Benteng Wolio 2025 Siap Digelar, Tampilkan Puluhan Karya Sineas Nusantara
Konsep layar tancap yang dulu dilakukan dari kampung ke kampung kini dihidupkan kembali dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan didukung secara nasional. Program ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana kategori Sinema Indonesiana 2025.
Kehadiran Layar Benteng membuka peluang baru dalam sektor pariwisata berbasis budaya. Aktivitas menonton film tidak lagi terbatas pada ruang tertutup, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata yang menggabungkan sejarah, budaya, dan seni.
Bagi masyarakat lokal, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi. Sementara bagi wisatawan, ini bisa menjadi alternatif pengalaman yang tidak biasa, menonton film di tengah benteng tua atau kampung adat yang sarat cerita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram