Ilustrasi telur paskah. (Freepik/jcomp) (Mufida)
SULTRA - Setiap perayaan keagamaan biasanya punya simbol khas. Kalau Natal identik dengan pohon cemara, maka Paskah justru lekat dengan telur warna-warni. Menariknya, tidak semua orang benar-benar tahu alasan di balik tradisi ini.
Fenomena ini membuat banyak orang bertanya, sebenarnya kenapa Paskah identik dengan telur? Di balik bentuknya yang sederhana, ternyata ada makna filosofis dan sejarah panjang yang membentuk tradisi tersebut.
Penggunaan telur dalam perayaan Paskah bukan hal baru. Tradisi ini sudah ada sejak zaman gereja kuno, bahkan sebelum berkembang menjadi perayaan modern seperti sekarang.
Pada masa awal Kekristenan di Eropa, telur dianggap sebagai simbol yang kuat karena melambangkan kehidupan baru. Hal ini kemudian dikaitkan dengan peristiwa kebangkitan Yesus Kristus, yang menjadi inti perayaan Paskah.
Selain itu, dalam tradisi kuno, telur sering digunakan sebagai simbol kesuburan dan kelahiran kembali, sehingga mudah diadaptasi dalam konteks religius.
Secara simbolis, telur memiliki makna yang cukup dalam. Dari luar terlihat sederhana dan tertutup, tetapi di dalamnya tersimpan kehidupan.
Konsep ini sejalan dengan makna Paskah, yaitu kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Telur menjadi representasi visual dari kehidupan yang muncul setelah masa kematian atau kegelapan. Karena itu, telur bukan sekadar hiasan, tapi simbol harapan, pembaruan, dan kehidupan baru.
Baca juga: Deretan Gereja Bersejarah di Kendari Untuk Wisata Rohani
Seiring waktu, tradisi ini berkembang. Awalnya, telur yang digunakan adalah telur asli yang direbus, lalu dihias dengan warna-warna tertentu.
Di Eropa Timur, khususnya, menghias telur menjadi tradisi yang sangat detail, bahkan menggunakan teknik lukis khusus. Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai negara dan mengalami banyak modifikasi.
Di era modern, telur asli mulai digantikan dengan telur cokelat atau plastik, terutama untuk keperluan perayaan anak-anak.
Warna cerah pada telur Paskah bukan tanpa alasan. Warna-warna ini melambangkan sukacita dan kemenangan, sesuai dengan makna Paskah sebagai perayaan kebangkitan.
Selain itu, penggunaan warna juga membuat tradisi ini lebih menarik, terutama bagi anak-anak. Dari sisi budaya, ini menjadi cara efektif untuk mengenalkan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk yang lebih menyenangkan.
Dalam tradisi gereja, sebelum Paskah ada masa puasa yang dikenal sebagai Lent. Selama periode ini, umat biasanya membatasi konsumsi makanan tertentu, termasuk telur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis