Ilustrasi ikan paus. (Freepik/rawpixel.com) (Mufida)
SULTRA - Warga pesisir Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sempat dihebohkan dengan penemuan seekor paus sperma yang terdampar di Pantai Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa. Mamalia laut raksasa itu ditemukan sudah dalam kondisi mati dan diperkirakan memiliki panjang sekitar 8 hingga 10 meter.
Peristiwa paus terdampar memang bukan hal baru di berbagai wilayah dunia. Namun, kejadian ini sering memunculkan pertanyaan publik, mengapa paus bisa sampai terdampar di pantai? Apakah karena pencemaran laut, aktivitas tambang, atau bahkan fenomena alam seperti gerhana bulan?
Untuk memahami fenomena paus sperma terdampar di Kolaka, berikut beberapa kemungkinan penyebab yang sering dijelaskan oleh para peneliti kelautan.
Paus, termasuk paus sperma (Physeter macrocephalus), memiliki sistem navigasi alami yang memanfaatkan medan magnet bumi dan gelombang suara di laut. Namun dalam beberapa kondisi, paus bisa mengalami disorientasi atau kehilangan arah. Hal ini dapat terjadi karena perubahan arus laut, kondisi cuaca ekstrem, gangguan suara bawah laut, dan medan magnet yang tidak stabil. Ketika paus kehilangan orientasi, mereka bisa masuk ke perairan dangkal dan akhirnya terdampar di pantai.
Banyak kasus paus terdampar terjadi karena hewan tersebut sudah dalam kondisi sakit atau lemah. Paus yang sakit biasanya kehilangan kemampuan berenang jauh, terpisah dari kelompoknya, dan naik ke perairan dangkal untuk bernapas lebih mudah. Dalam kondisi tersebut, paus sering kali tidak mampu kembali ke laut lepas ketika air surut.
Aktivitas manusia di laut juga bisa memengaruhi navigasi paus. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa suara bawah laut dari kapal, eksplorasi energi, atau aktivitas industri dapat mengganggu sistem sonar paus.
Baca juga: Eksotisme Desa Wisata Namu Mendunia, Siap Sambut 8 Negara dalam Program Eduwisata Internasional 2026
Paus menggunakan echolocation (pantulan suara) untuk bernavigasi dan mencari makanan. Jika gelombang suara di laut terganggu, paus dapat kehilangan orientasi dan berpotensi masuk ke wilayah pantai.
Sebagian masyarakat juga berspekulasi bahwa paus yang terdampar bisa berkaitan dengan pencemaran laut, termasuk limbah industri atau aktivitas tambang.
Secara ilmiah, hal ini memang mungkin terjadi, tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya. Racun logam berat atau polusi kimia di laut dapat memengaruhi kesehatan mamalia laut, terutama jika terakumulasi dalam jangka panjang.
Namun hingga kini, penyebab pasti paus sperma terdampar di Kolaka masih memerlukan investigasi dari pihak berwenang dan peneliti kelautan.
Spekulasi lain yang muncul di masyarakat adalah kaitan antara gerhana bulan dengan fenomena paus terdampar.
Secara ilmiah, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan gerhana bulan secara langsung menyebabkan paus terdampar. Gerhana memang berkaitan dengan posisi bumi, bulan, dan matahari, tetapi pengaruhnya terhadap navigasi paus sangat kecil dibanding faktor lain seperti arus laut atau kebisingan bawah laut.
Baca juga: Diapit Laut Banda dan Laut Flores, Begini Gambaran Umum Wilayah Sultra
Dengan kata lain, teori ini lebih banyak beredar sebagai spekulasi daripada penjelasan ilmiah yang terbukti.
Kasus paus sperma terdampar di Kolaka menjadi pengingat bahwa ekosistem laut sangat kompleks dan sensitif terhadap berbagai perubahan. Faktor alami maupun aktivitas manusia bisa memengaruhi kehidupan mamalia laut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis