Ilustrasi pasar takjil di Bulan Ramadhan. (Freepik) (Mufida)
SULTRA - Setiap memasuki bulan suci Ramadan, setiap titik di Kota Kendari menjadi ramai oleh pasar kuliner. Menjelang sore, sejumlah ruas jalan mendadak padat, aroma gorengan menyeruak, dan lapak-lapak takjil bermunculan. Pasar Ramadan atau sentra takjil hadir bukan hanya sebagai tempat berburu menu berbuka, tetapi juga sebagai fenomena ekonomi musiman yang menghidupkan aktivitas UMKM dan memperkuat tradisi masyarakat.
Keberadaan pasar Ramadan di Kendari menjadi ruang ekonomi sementara yang sangat dinantikan pelaku usaha kecil. Pedagang rumahan, penjual kue tradisional, hingga UMKM kuliner musiman memanfaatkan momentum ini untuk menambah pendapatan. Dalam waktu singkat, perputaran uang meningkat signifikan, terutama pada jam-jam menjelang berbuka puasa.
Baca juga: 5 Cafe Tempat Nongkrong di Kendari yang Wajib Dikunjungi
Produk yang dijual pun beragam, mulai dari gorengan, es buah, kue basah tradisional, hingga makanan berat. Pasar Ramadan memberi peluang bagi pelaku UMKM yang mungkin tidak memiliki toko permanen, namun mampu bersaing lewat rasa dan harga.
Di antara berbagai titik keramaian, Jalan Sao-Sao dikenal sebagai salah satu pusat beli kue dan camilan di Kendari. Menariknya, kawasan ini tidak hanya ramai saat Ramadan. Pada hari biasa, Jalan Sao-Sao tetap menjadi rujukan warga untuk mencari makanan berat, jajanan pasar, kue tradisional, hingga camilan rumahan.
Saat Ramadan tiba, intensitas keramaiannya meningkat tajam. Lapak-lapak bertambah, pilihan takjil semakin beragam, dan pembeli datang dari berbagai penjuru kota. Jalan Sao-Sao menjadi contoh bagaimana sentra kuliner lokal bisa bertahan lintas musim, sekaligus beradaptasi dengan lonjakan permintaan Ramadan.
Baca juga: Wisata Keluarga di Kebun Raya Kendari, Ramah Anak dan Edukatif
Berburu takjil bukan sekadar kegiatan membeli makanan. Bagi masyarakat Kendari, ini telah menjadi tradisi sosial. Keluarga, pasangan, hingga kelompok pertemanan sengaja meluangkan waktu sore hari untuk berkeliling, memilih takjil, dan menikmati suasana Ramadan.
Pasar Ramadan di Kendari menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga ruang bertemunya ekonomi dan budaya. Dari lapak sederhana hingga sentra kuliner seperti Jalan Sao-Sao, aktivitas berburu takjil menjadi penggerak UMKM sekaligus tradisi yang terus hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis