SULTRA - Hubungan antara seorang pria Rusia bernama Dmitrii Vivatenko dan wanita muda dari Buton Utara, Anggela atau Ela, menjadi salah satu kisah lintas negara yang sedang mencuri perhatian. Bukan karena dramanya, tetapi karena keduanya membuktikan bahwa hubungan jarak jauh tetap bisa berjalan stabil meski bahasa sehari-hari saja mereka tidak sama.
Rencana keduanya cukup jelas. Jika semua berjalan sesuai keinginan, mereka akan mengikat janji pada pertengahan 2026 di kampung halaman Ela, Kecamatan Kulisusu. Keputusan ini muncul setelah lebih dari satu tahun menjalin hubungan dari dua negara yang jaraknya nyaris satu benua penuh.
Baca juga: Film Asal Sultra “Harta Karun Wau” Siap Tayang Perdana di JAFF 2025
Selama ini, komunikasi menjadi jembatan utama hubungan mereka. Dmitrii dan Ela menghabiskan banyak waktu mengobrol lewat pesan, sering kali mengandalkan aplikasi penerjemah untuk memahami kalimat satu sama lain. Meski ribet, ritme komunikasi yang terbangun justru membuat keduanya semakin intens dan terbuka.
Menurut Ela, pasangannya yang berusia lebih matang itu bahkan mulai mempelajari bahasa Indonesia sedikit demi sedikit. Perbedaan tinggi badan yang cukup ekstrem, 198 cm berbanding 150 cm, atau latar belakang budaya, tak membuat keduanya ragu untuk melanjutkan hubungan yang mereka bangun sejak awal.
Jarak menjadi tantangan utama, namun tidak sampai membuat komunikasi terputus. Ela menyebut alasan kuat yang membuat hubungan ini bertahan adalah kecocokan dalam cara memandang sesuatu. Mereka merasa nyambung dalam hal-hal mendasar, meskipun harus menerjemahkan setiap percakapan terlebih dahulu.
Baca juga: Empat Model Cilik dari Muna Tembus Panggung Nasional, Bawa Pulang Gelar di Tren Model Indonesia 2025
Di tengah perbedaan keyakinan religius, keluarga Ela di Butur menerimanya dengan tenang. Dukungan orang terdekat membuat rencana pernikahan yang sebelumnya hanya wacana kini terasa semakin dekat untuk diwujudkan. Kedatangan Dmitrii ke Butur juga membuatnya bersentuhan langsung dengan lingkungan dan tradisi setempat. Ia rupanya cepat beradaptasi dengan makanan lokal dan tak ragu mencoba menu yang biasanya dianggap ekstrem bagi pendatang. Udang, kepiting, sampai pete yang aromanya khas, semuanya ia lahap tanpa ragu.
Jika tidak ada halangan, tahun 2026 bisa menjadi titik baru kisah keduanya, yang berawal dari pesan berbalas melalui penerjemah digital dan berkembang menjadi rencana hidup bersama lintas budaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facebook