SULTRA - Indonesia meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 melalui perjuangan panjang yang juga melibatkan berbagai daerah di Nusantara. Sejarah perjuangan kemerdekaan di Sultra menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut karena wilayah ini telah mengenal tradisi perlawanan terhadap penjajah sejak masa kerajaan dan kesultanan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, masyarakat Sulawesi Tenggara kembali menunjukkan semangat mempertahankan Republik melalui dukungan terhadap pemerintahan Indonesia, perjuangan diplomasi, hingga perlawanan terhadap upaya Belanda menguasai kembali wilayah Nusantara.
Jejak perjuangan itu tidak hanya lahir dari satu peristiwa besar, melainkan rangkaian perlawanan yang melibatkan Kesultanan Buton, kerajaan-kerajaan lokal di daratan Sulawesi Tenggara, hingga tokoh-tokoh daerah yang berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Belajar Sejarah Lokal! Ini Momen Penting Lahirnya Provinsi Sulawesi Tenggara
Latar Belakang Perlawanan Rakyat Sulawesi Tenggara Melawan Penjajah
Wilayah Sulawesi Tenggara sejak abad ke-16 menjadi kawasan strategis jalur perdagangan rempah-rempah. Posisi tersebut membuat bangsa Portugis, Belanda, hingga Jepang berusaha menguasai kawasan ini.
Kesultanan Buton menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di kawasan timur Nusantara. Meski pernah menjalin hubungan diplomatik dengan VOC melalui sejumlah perjanjian, hubungan tersebut tidak selalu berjalan harmonis. Berbagai kebijakan kolonial yang merugikan rakyat memicu perlawanan dari para bangsawan maupun masyarakat.
Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942-1945, kondisi masyarakat juga mengalami tekanan akibat kerja paksa, kekurangan pangan, dan berbagai kebijakan militer. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan, semangat rakyat Sulawesi Tenggara segera beralih untuk mendukung berdirinya negara Indonesia.
Peristiwa Bersejarah dan Pertempuran di Masa Kemerdekaan
Kabar Proklamasi Kemerdekaan tidak langsung diterima seluruh daerah karena keterbatasan komunikasi. Meski demikian, berita kemerdekaan akhirnya sampai ke wilayah Sulawesi Tenggara melalui berbagai jalur, termasuk para pelaut, tokoh masyarakat, dan aparat pemerintahan.
Sesudah Jepang menyerah kepada Sekutu, Belanda melalui NICA berusaha kembali menguasai Indonesia, termasuk wilayah Sulawesi Tenggara. Situasi tersebut memunculkan berbagai bentuk perlawanan, baik secara politik maupun melalui gerakan rakyat.
Di Buton, pemerintahan Kesultanan tetap memberikan ruang bagi berkembangnya pemerintahan Republik. Tokoh-tokoh lokal ikut membangun komunikasi dengan pemerintah pusat serta menjaga stabilitas keamanan daerah agar tidak kembali dikuasai kolonial.
Sementara itu, di sejumlah wilayah daratan seperti Kolaka, Konawe, dan Muna, masyarakat turut mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan melalui pembentukan laskar rakyat, pengamanan wilayah, hingga membantu distribusi logistik kepada pejuang Republik.
Tokoh Pejuang yang Berperan dari Sulawesi Tenggara
Sultan Muhammad Falihi Kaimuddin
Sultan Buton ke-38 ini memimpin Kesultanan Buton pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Pemerintahannya dikenal memberi dukungan terhadap eksistensi Republik Indonesia sehingga transisi kekuasaan di wilayah Buton berlangsung relatif kondusif dibanding sejumlah daerah lain.
Lakilaponto (Sultan Murhum)
Meski hidup jauh sebelum era kemerdekaan Indonesia, nama Lakilaponto atau Sultan Murhum tetap menjadi simbol perjuangan masyarakat Buton. Ia merupakan pendiri Kesultanan Buton sekaligus tokoh yang memperkuat sistem pemerintahan dan identitas politik daerah. Semangat kepemimpinannya kemudian diwarisi generasi berikutnya dalam menghadapi kolonialisme.
Halu Oleo
Nama Halu Oleo lebih dikenal sebagai tokoh pemersatu Kerajaan Konawe pada abad ke-18. Perjuangannya membangun persatuan antarkerajaan menjadi inspirasi penting bagi masyarakat Sulawesi Tenggara dalam menjaga persatuan hingga masa kemerdekaan. Namanya kini diabadikan menjadi nama bandar udara internasional dan universitas negeri terbesar di Sulawesi Tenggara.
Selain tokoh-tokoh tersebut, banyak pejuang lokal yang berperan di tingkat daerah meski namanya tidak banyak tercatat dalam sejarah nasional. Mereka menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan di wilayah masing-masing.
Sulawesi Tenggara Resmi Menjadi Provinsi Sendiri
Pasca-kemerdekaan, wilayah Sulawesi Tenggara masih menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Aspirasi masyarakat untuk memiliki pemerintahan sendiri akhirnya terwujud melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964, yang menetapkan berdirinya Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Kendari sebagai ibu kota.
Pembentukan provinsi baru tersebut menjadi tonggak penting karena memberikan ruang lebih besar bagi pembangunan daerah sekaligus memperkuat identitas masyarakat Sulawesi Tenggara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nilai perjuangan para pendahulu masih dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan sejarah di Sulawesi Tenggara. Benteng Keraton Buton di Baubau menjadi salah satu saksi perjalanan panjang pemerintahan Kesultanan Buton. Benteng tersebut dikenal sebagai benteng terluas di dunia berdasarkan catatan Guinness World Records dan kini menjadi destinasi wisata sejarah unggulan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis