SULTRA - Pulau Buton di Sulawesi Tenggara menyimpan banyak gua eksotis, mulai dari gua bersejarah, gua dengan kolam air jernih, hingga lorong batu kapur yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Beberapa di antaranya bahkan telah menjadi destinasi wisata unggulan karena menawarkan pengalaman menjelajahi "perut bumi" yang berbeda dari wisata alam pada umumnya.
Bentang alam karst yang tersebar di Pulau Buton dan Buton Tengah menjadikan kawasan ini memiliki ratusan gua dengan karakter yang beragam. Ada yang ramah untuk wisata keluarga, ada pula yang lebih cocok bagi pencinta caving karena memiliki lorong sempit, jalur berbatu, hingga sungai bawah tanah.
Baca juga: Mengenal Gua Lapahia di Sultra, Surga Cave Diving Alami Favorit Wisatawan Asing
Daya Tarik Wisata Susur Gua di Buton
Keunikan wisata susur gua di Buton terletak pada kondisi alamnya yang masih relatif alami. Sebagian besar gua terbentuk dari batuan kapur yang telah mengalami proses geologi selama ribuan bahkan jutaan tahun sehingga menghasilkan ornamen stalaktit dan stalagmit dengan bentuk yang unik. Selain menjadi destinasi wisata, beberapa gua juga memiliki nilai sejarah, budaya, bahkan menjadi sumber air bersih bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, setiap lokasi menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung.
Gua Lapahia, Buton Tengah
Gua Lapahia menjadi salah satu lokasi menarik bagi pencinta wisata susur gua di Pulau Muna dan Buton Tengah. Keunikan gua ini adalah lokasinya yang berada di dalam kawasan Kadena Glamping Dive Resort, sehingga pengunjung yang menginap dapat sekaligus menikmati pengalaman menjelajah gua alami.
Untuk mencapai mulut gua, pengunjung harus berjalan menuju area hutan di dalam kawasan glamping. Akses masuknya cukup menantang karena melewati celah batu yang sempit, kemudian dilanjutkan dengan jalur menurun yang cukup curam. Oleh karena itu, penggunaan sepatu yang memiliki daya cengkeram baik sangat disarankan.
Begitu berada di dasar gua, wisatawan akan disambut kolam air yang sangat jernih dengan nuansa biru kehijauan. Kondisi di dalam gua cukup gelap karena minim cahaya matahari, sehingga membawa headlamp atau senter menjadi perlengkapan wajib selama eksplorasi. Suasana yang masih alami menjadikan Gua Lapahia sebagai salah satu hidden gem yang belum banyak diketahui wisatawan di Sulawesi Tenggara.
Baca juga: Diakui Dunia, Lukisan Gua Tertua di Dunia Ternyata Ada di Pulau Muna
Goa Liang Kamoi, Buton
Goa Liang Kamoi di Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, menjadi salah satu destinasi yang paling mudah dijangkau. Berbeda dari gua pada umumnya, bagian tengah gua terbuka sehingga cahaya matahari masuk langsung ke dalam, menciptakan suasana yang terang layaknya taman alami di tengah batuan kapur.
Jalur menuju dasar gua relatif pendek sehingga cocok bagi wisatawan pemula maupun keluarga. Selain menikmati stalaktit dan stalagmit, pengunjung biasanya datang untuk berburu fotografi karena lanskapnya menyerupai lokasi dalam film fantasi.
Gua Lakasa, Baubau
Meski berada di Kota Baubau, Gua Lakasa masih menjadi bagian dari kawasan Pulau Buton yang sering masuk dalam paket wisata regional. Gua ini terkenal karena memiliki kolam air berwarna biru kehijauan yang sangat jernih serta dihiasi stalaktit dan stalagmit aktif. Menurut cerita masyarakat, nama Lakasa berasal dari warga yang pertama kali menemukan gua tersebut setelah mendapat petunjuk melalui mimpi. Terlepas dari kisah tersebut, Gua Lakasa kini menjadi salah satu ikon wisata alam Baubau.
Gua Maobu, Buton Tengah
Berlokasi di Desa Lalibo, Kecamatan Wasangka Tengah, Gua Maobu menawarkan pengalaman yang berbeda karena memiliki kolam alami sedalam sekitar tiga hingga delapan meter.
Airnya sangat jernih dan sebagian terhubung langsung dengan laut melalui lorong bawah tanah sehingga di titik tertentu terasa sedikit asin. Pengunjung dapat berenang sambil menikmati formasi batu kapur yang mengelilingi kolam.
Gua Koo, Buton Tengah
Gua Koo dikenal memiliki dua kolam alami berwarna biru kristal yang menjadi sumber air bersih masyarakat setempat. Gua ini difungsikan sebagai sumber air, sehingga wisatawan tidak diperbolehkan berenang. Meski demikian, panorama di dalam gua tetap menjadi daya tarik utama karena cahaya matahari memantul di permukaan air sehingga menghasilkan warna kebiruan yang memukau.
Gua Bidadari, Buton Tengah
Bagi pencinta fotografi alam, Gua Bidadari menjadi destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Gua ini memiliki kolam alami di bagian dalam yang mendapat sorotan cahaya dari mulut gua sehingga menghasilkan gradasi warna yang indah. Jalur masuknya cukup menantang karena melewati jalan setapak dan bebatuan, sehingga lebih nyaman dikunjungi bersama pemandu lokal.
Gua Laumehe, Buton Tengah
Gua Laumehe sering disebut sebagai salah satu lokasi susur gua terbaik di Sulawesi Tenggara. Lorong guanya dipenuhi stalaktit dan stalagmit aktif dengan berbagai bentuk yang masih terus mengalami proses pertumbuhan alami. Berdasarkan penelitian speleologi, gua ini memiliki ornamen yang sangat lengkap sehingga menjadi salah satu destinasi unggulan wisata petualangan di Buton Tengah.
Jalur ke Gua: Pilih Rute Pemula atau Tantangan Ekstrem?
Gua di Buton memiliki tingkat kesulitan jalur yang berbeda-beda. Liang Kamoi, Lakasa, dan Gua Maobu relatif mudah dijelajahi sehingga cocok bagi wisatawan umum. Sebaliknya, Gua Laumehe, Gua Bidadari, hingga beberapa gua lain di kawasan karst Buton Tengah lebih sesuai untuk aktivitas caving karena memiliki lorong panjang, kondisi gelap, serta medan berbatu.
Jika baru pertama kali mencoba wisata susur gua, sebaiknya memilih lokasi yang telah memiliki akses wisata dan didampingi pemandu lokal.
Keindahan Ornamen Gua: Stalaktit, Stalagmit, hingga Kolam Alami
Daya tarik utama wisata susur gua di Buton adalah keberadaan stalaktit dan stalagmit yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun. Selain itu, beberapa gua memiliki kolam air tawar, laguna bawah tanah, hingga lorong yang terhubung dengan laut. Kombinasi batu kapur, tetesan air, serta cahaya alami menciptakan pemandangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pengunjung diimbau untuk tidak menyentuh atau merusak ornamen gua karena proses pertumbuhannya berlangsung sangat lambat.
Biaya Tiket, Pemandu, dan Peralatan
Sebagian besar objek wisata gua di Pulau Buton hanya mengenakan tiket masuk yang relatif terjangkau, bahkan beberapa lokasi masih gratis. Namun, untuk aktivitas susur gua yang lebih jauh ke dalam, wisatawan disarankan menggunakan jasa pemandu lokal.
Biaya pemandu biasanya disesuaikan dengan tingkat kesulitan jalur dan jumlah peserta. Jika diperlukan, penyewaan helm, senter kepala (headlamp), serta sepatu khusus dapat dilakukan melalui komunitas atau pengelola wisata setempat.
Tips Keselamatan Saat Menjelajah Gua
Wisata susur gua tetap membutuhkan persiapan yang matang. Gunakan sepatu dengan daya cengkeram yang baik, bawa senter cadangan, air minum, dan pakaian yang nyaman.
Hindari memasuki gua saat hujan deras karena beberapa lokasi berpotensi mengalami kenaikan debit air. Jangan melakukan penjelajahan sendirian, terutama pada gua yang memiliki lorong panjang atau minim pencahayaan.
Rute Menuju Lokasi Wisata
Mayoritas destinasi wisata gua di Pulau Buton dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dari Kota Baubau atau Pasarwajo.
Sementara untuk kawasan Buton Tengah yang dikenal sebagai "Negeri Seribu Gua", wisatawan dapat melanjutkan perjalanan melalui jalur darat dari Pelabuhan Feri Mawasangka atau Pelabuhan Waara menuju lokasi masing-masing gua. Beberapa titik wisata telah memiliki area parkir, gazebo, toilet, serta tempat bilas sederhana yang memudahkan pengunjung setelah beraktivitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis