SULTRA - Lukisan gua tertua di dunia kini bukan lagi berasal dari Eropa. Temuan mengejutkan justru datang dari Indonesia, tepatnya di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Situs prasejarah ini resmi tercatat sebagai pemegang rekor dunia setelah Guinness World Records mengakui cap tangan manusia purba berwarna merah di dinding gua tersebut sebagai karya seni cadas tertua yang pernah ditemukan manusia.
Penetapan itu diumumkan pada 19 Mei 2026 setelah hasil penelitian ilmiah menunjukkan usia lukisan mencapai sekitar 67.800 tahun. Temuan ini sekaligus mengubah pandangan lama dunia yang selama ini menganggap sejarah seni manusia bermula dari gua-gua prasejarah di Eropa.
Baca juga: Travel Guide ke Goa Metanduno: Cara Menuju Lokasi Lukisan Tertua di Dunia di Muna
Leang Metanduno merupakan salah satu gua prasejarah yang berada di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Gua ini menyimpan lukisan cadas berupa cap tangan manusia purba dengan pigmen merah yang masih terlihat di beberapa bagian dinding batu.
Usia lukisan diketahui melalui metode uranium-series dating, yaitu teknik penanggalan ilmiah untuk mengukur umur lapisan mineral yang terbentuk di atas lukisan. Dari hasil pengujian tersebut, para peneliti memperkirakan usia lukisan mencapai sekitar 67.800 tahun.
Angka itu menjadikan Leang Metanduno melampaui sejumlah situs seni cadas terkenal dunia yang sebelumnya dianggap paling tua, termasuk beberapa gua di Prancis dan Spanyol. Temuan tersebut juga telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama peneliti internasional.
Baca juga: Mengenal Gua Lapahia di Sultra, Surga Cave Diving Alami Favorit Wisatawan Asing
Pengakuan dari Guinness World Records menjadi momen penting bagi Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara. Dalam situs resminya, Guinness menyebut lukisan cadas Leang Metanduno sebagai karya seni gua tertua yang diketahui di dunia.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam seremoni resmi di Jakarta pada Mei 2026. Pengakuan internasional ini tidak hanya berdampak pada dunia arkeologi, tetapi juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata sejarah dan budaya di Sulawesi Tenggara.
Selama ini, Pulau Muna lebih dikenal lewat panorama alam, pantai, dan budaya lokalnya. Kini, wilayah tersebut memiliki daya tarik baru sebagai lokasi salah satu penemuan arkeologi paling penting di dunia.
Temuan lukisan gua tertua di dunia membuat Pulau Muna berpotensi berkembang sebagai destinasi wisata sejarah internasional. Wisatawan bukan hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga menelusuri jejak awal kreativitas manusia purba.
Konsep wisata edukasi berbasis situs prasejarah dinilai memiliki peluang besar karena wisatawan modern kini semakin tertarik pada pengalaman autentik dan bernilai sejarah. Apalagi, lokasi gua di kawasan karst Pulau Muna menawarkan lanskap alami yang masih relatif terjaga.
Jika dikelola secara berkelanjutan, Leang Metanduno dapat menjadi magnet wisata baru seperti situs-situs prasejarah terkenal dunia lainnya. Tantangannya tentu bukan cuma promosi, tetapi juga menjaga kelestarian situs agar tidak rusak akibat kunjungan berlebihan.
Selama bertahun-tahun, banyak teori sejarah menempatkan Eropa sebagai pusat awal perkembangan seni manusia purba. Namun, penemuan di Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara juga memiliki peran besar dalam sejarah peradaban manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN