Sabtu, 30 MEI 2026 • 13:27 WIB

Bukan Cuma Sate dan Rendang, Ini 7 Olahan Daging Kurban Favorit Warga Sulawesi Tenggara Saat Idul Adha

Author

Ilustrasi olahan daging kurban. (Freepik) (Mufida)

SULTRA - Olahan daging kurban favorit warga Sulawesi Tenggara tidak selalu berupa sate atau rendang seperti yang umum ditemukan di daerah lain. Masyarakat Sultra memiliki sejumlah hidangan khas yang sering diolah dari daging sapi kurban saat Iduladha, mulai dari parende, sup konro lokal, sate gogos, hingga berbagai masakan berkuah yang kaya rempah. Hidangan-hidangan tersebut tidak hanya menjadi menu keluarga, tetapi juga bagian dari tradisi kebersamaan setelah penyembelihan hewan kurban.

Di berbagai daerah seperti Buton, Muna, Konawe, Kolaka, hingga Wakatobi, momen Idul Adha identik dengan aktivitas memasak bersama keluarga besar. Daging yang baru dibagikan biasanya langsung diolah menjadi hidangan khas daerah yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca juga: Bolehkah Daging Kurban Dibagikan ke Nonmuslim? Ini Penjelasan Ulama yang Masih Sering Diperdebatkan

Olahan Daging Kurban Khas Sultra

1. Parende Daging, Hidangan Berkuah Khas Sulawesi Tenggara

Jika berbicara tentang makanan khas Sulawesi Tenggara, nama parende hampir selalu masuk daftar. Parende sebenarnya lebih populer menggunakan ikan segar. Namun saat Iduladha, sebagian masyarakat mengganti bahan utama dengan daging sapi kurban.

Kuah parende dikenal memiliki cita rasa segar karena menggunakan:

  • Belimbing wuluh
  • Kunyit
  • Cabai
  • Bawang merah
  • Serai

Perpaduan rasa asam dan gurih membuat hidangan ini cocok disantap bersama nasi hangat.

2. Sup Daging Kampung Ala Sultra

Berbeda dengan sop Jawa atau sop Makassar, masyarakat Sulawesi Tenggara memiliki versi sup daging yang lebih sederhana. Biasanya bahan-bahannya menggunakan:

  • Tulang sapi
  • Daging bagian sandung lamur
  • Wortel
  • Kentang
  • Daun bawang

Kuah bening dengan rasa gurih alami membuat hidangan ini sering dipilih untuk mengolah bagian tulang kurban. Karena mudah dibuat dalam jumlah besar, sup daging menjadi menu yang sering disajikan saat keluarga besar berkumpul.

3. Sate Gogos, Kombinasi Daging dan Kuliner Khas Buton

Di wilayah Buton dan Baubau, banyak keluarga menyajikan sate bersama gogos, makanan tradisional berupa beras ketan yang dibungkus daun pisang lalu dibakar.

Perpaduan antara sate daging sapi dan gogos menjadi salah satu menu yang cukup populer saat Iduladha. Tekstur ketan yang pulen dianggap cocok dipadukan dengan sate berbumbu kacang maupun sate rempah khas Sulawesi. Karena itu, banyak warga menyebut sate gogos sebagai salah satu menu wajib saat perayaan hari besar.

4. Daging Bakar Rica-Rica

Pengaruh kuliner Sulawesi bagian timur membuat olahan rica-rica juga cukup populer di Sulawesi Tenggara. Daging sapi kurban biasanya dipotong kecil lalu dibakar sebelum dimasak menggunakan bumbu rica-rica yang terdiri dari:

  • Cabai merah
  • Cabai rawit
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Tomat

Hasilnya adalah hidangan dengan cita rasa pedas yang banyak disukai masyarakat Sultra. Menu ini umum ditemukan pada acara kumpul keluarga pasca penyembelihan kurban.

5. Tumis Daging Kenari Khas Buton

Di beberapa wilayah Buton, masyarakat sering memanfaatkan kenari sebagai bahan pelengkap masakan. Daging sapi ditumis bersama kenari yang telah dihaluskan sehingga menghasilkan rasa gurih khas.

Meski tidak sepopuler sate atau sup, hidangan ini masih ditemukan pada sejumlah keluarga yang mempertahankan resep tradisional.

Keunikan penggunaan kenari menjadi salah satu ciri khas kuliner Sulawesi Tenggara.

6. Kare Daging Ala Muna dan Buton

Kare daging juga cukup sering hadir saat Iduladha. Berbeda dengan kare dari Sumatra, versi Sultra umumnya memiliki kuah lebih ringan dengan dominasi santan dan rempah sederhana. Bumbu yang digunakan antara lain:

  • Kunyit
  • Ketumbar
  • Lengkuas
  • Serai
  • Santan

7. Tongseng Daging Adaptasi Favorit Keluarga

Meski bukan kuliner asli Sultra, tongseng menjadi salah satu menu yang sangat populer saat Iduladha. Banyak keluarga di Kendari, Baubau, Kolaka, dan Konawe mengolah daging kurban menjadi tongseng karena praktis dan cocok untuk berbagai bagian daging.

Perpaduan santan, kecap, dan rempah membuat menu ini digemari hampir semua kalangan.

Mengapa Olahan Daging Kurban di Sultra Berbeda?

Karakter kuliner Sulawesi Tenggara dipengaruhi oleh budaya maritim yang kuat. Masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan dengan cita rasa segar, gurih, tidak terlalu banyak santan dan memanfaatkan bahan lokal. Tradisi memasak bersama keluarga juga membuat resep-resep lama tetap bertahan hingga sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU