Ilustrasi aksara saat perayaan imlek. (Freepik) (Mufida)
SULTRA - Pantangan saat Imlek kerap menjadi topik yang selalu muncul menjelang Tahun Baru China. Bukan hanya di komunitas Tionghoa, pantangan ini juga sering membuat masyarakat umum penasaran. Di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tenggara, sebagian tradisi ini masih dijalankan, sebagian lain dipahami sebatas simbol budaya.
Menariknya, pantangan Imlek bukan sekadar larangan tanpa alasan. Hampir semuanya berakar pada filosofi tentang harapan, rezeki, dan cara manusia memulai tahun dengan sikap yang baik.
Salah satu pantangan paling dikenal adalah larangan menyapu rumah dan membuang sampah pada hari pertama Imlek. Dalam kepercayaan Tionghoa, aktivitas ini dimaknai sebagai membuang keberuntungan yang baru saja datang. Karena itu, banyak keluarga memilih membersihkan rumah sehari sebelum Imlek. Bukan karena rumah mendadak kotor di hari H, tetapi karena simbol “menahan rezeki” agar tidak ikut tersapu keluar.
Baca juga: Mengenal Shio, Simbol, dan Kepercayaan Pada Perayaan Imlek di Sultra
Saat Imlek, kata-kata seperti “mati”, “sakit”, “rugi”, atau “gagal” dihindari. Ucapan dipercaya sebagai doa, sehingga menjaga tutur kata dianggap sama pentingnya dengan ritual lain.
Di Sulawesi Tenggara, kebiasaan ini sering terlihat saat keluarga berkumpul atau menerima tamu. Ucapan selamat dan doa baik lebih diutamakan, meski suasananya tetap cair dan santai.
Pantangan lain yang cukup populer adalah tidak memotong rambut dan menghindari penggunaan benda tajam seperti pisau atau gunting. Rambut dianggap simbol keberuntungan, sehingga memotongnya diyakini dapat “memotong rezeki”.
Secara simbolik, ini juga dimaknai sebagai ajakan untuk memulai tahun dengan lebih hati-hati dan tidak gegabah.
Dalam pantangan saat Imlek, meminjam atau menagih utang dianggap kurang baik. Tahun baru diharapkan dimulai tanpa beban dan konflik finansial.
Prinsip ini masih dijalankan oleh sebagian masyarakat sebagai etika sosial, bukan tekanan. Intinya sederhana: jangan memulai tahun dengan urusan yang berpotensi memicu ketegangan.
Baca juga: Mengenal Makanan Khas Imlek, dari Makna Simbolik hingga Favorit di Sultra
Seiring waktu, banyak pantangan Imlek yang tidak lagi dipahami secara kaku. Generasi muda cenderung memaknainya sebagai simbol refleksi diri, bukan aturan mutlak.
Di tengah masyarakat multikultural seperti Sulawesi Tenggara, pantangan Imlek justru menjadi pengetahuan budaya yang menarik. Orang boleh percaya atau tidak, tetapi memahami maknanya adalah bentuk penghargaan terhadap tradisi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis