Lagu daerah populer dari Sulawesi Tenggara yang sarat makna. (Freepik/jcomp) (Mufida)
SULTRA - Lagu daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Sulawesi Tenggara memiliki keragaman etnis seperti Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene yang masing-masing melahirkan ekspresi musik dengan karakter kuat. Melalui lagu daerah dari Sulawesi Tenggara, nilai sejarah, adat istiadat, hingga pandangan hidup masyarakat diwariskan lintas generasi. Lagu-lagu ini kerap hadir dalam upacara adat, penyambutan tamu, hingga pendidikan budaya di sekolah, menjadikannya medium penting pelestarian kearifan lokal.
Lagu daerah Sulawesi Tenggara adalah karya musik tradisional maupun semi-modern yang lahir dari budaya lokal masyarakat setempat. Lagu ini biasanya menggunakan bahasa daerah, tangga nada sederhana, serta lirik yang sarat pesan moral, sosial, dan spiritual. Fungsinya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi budaya dan penguat identitas kolektif.
Sejarah lagu daerah di Sulawesi Tenggara tidak bisa dilepaskan dari tradisi lisan. Sebelum budaya tulis berkembang, pesan-pesan adat dan sejarah disampaikan melalui nyanyian. Di wilayah Kesultanan Buton, misalnya, lagu berkembang seiring sistem pemerintahan adat dan nilai keislaman. Sementara pada masyarakat Tolaki dan Muna, lagu daerah sering berkaitan dengan siklus hidup, seperti kelahiran, pernikahan, dan panen. Hingga kini, lagu-lagu tersebut tetap hidup meski mengalami adaptasi aransemen modern.
Baca juga: Mengenal 11 Kecamatan di Kota Kendari, Peta Wilayah yang Membentuk Wajah Ibu Kota Sultra
Lagu ini dikenal sebagai lagu pergaulan masyarakat Tolaki. Tema utamanya tentang kebersamaan, persahabatan, dan kegembiraan dalam kehidupan sosial. Lagu ini sering dibawakan dalam acara adat dan penyambutan tamu.
Lagu ini merepresentasikan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah Wolio, pusat kebudayaan Kesultanan Buton. Tema liriknya menekankan kesetiaan pada adat, tanah kelahiran, dan nilai luhur masyarakat Buton.
Lagu daerah Muna ini menggambarkan bagaimana kehidupan di daerah Muna sebagai kampung halaman. Mulai dari keindahan, kebersamaan bersama sanak saudara, dan kehidupan bersama orang tua. Lagu ini sering dinyanyikan dalam suasana santai maupun acara kebudayaan.
Lagu Wulele Sanggula menceritakan tentang legenda bidadari yang turun dari kahyangan. Berawal dari mitos hingga kemudian menjadi sebuah lagu daerah, Wulele Sanggula juga kini banyak diaransemen menjadi lebih modern untuk acara daerah dan nasional, serta pengiring tarian.
Waleja merupakan lagu dari Buton yang bermakna perempuan. Di daerah Buton, perempuan disebut waleja.
Baca juga: Bukan Sekadar Hiasan Kota, Ini Tugu Ikonik di Kendari dan Makna di Baliknya
Keberadaan lagu daerah Sulawesi Tenggara hingga hari ini menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang di tengah modernisasi. Tantangannya bukan pada kurangnya lagu, tetapi pada minimnya regenerasi pendengar dan pelaku seni. Dokumentasi, pendidikan budaya, dan adaptasi kreatif menjadi kunci agar lagu daerah tidak berhenti sebagai arsip, melainkan tetap hidup dalam keseharian masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis