Rabu, 17 JUNI 2026 • 22:04 WIB

Wisata Edukasi Alam: Panduan Lengkap ke Pusat Konservasi di Sulawesi Tenggara

Author

Ilustrasi pusat konservasi. (Magnific/evening_tao) (Mufida)

SULTRA - Saat ini, terdapat 3 pusat konservasi di Sulawesi Tenggara yang berada di Kendari, Buton, dan Bombana. Pusat Konservasi ini menjadi garda terdepan dalam melindungi berbagai spesies langka agar tidak punah akibat alih fungsi lahan, perubahan iklim, maupun eksploitasi berlebihan. Selain kawasan konservasi alami, Sulawesi Tenggara juga memiliki lembaga konservasi modern seperti Kebun Raya Kendari yang berperan penting dalam penelitian, pendidikan, dan pelestarian tumbuhan lokal.

Baca juga: Menjelajahi Kekayaan Botani: Daftar Flora Asli Sultra dan Manfaatnya

Pusat Konservasi Flora Endemik Sultra yang Perlu Diketahui

Sulawesi Tenggara memiliki beberapa kawasan konservasi yang berfungsi melindungi habitat asli tumbuhan endemik maupun spesies langka lainnya.

Baca juga: Wisata Keluarga di Kebun Raya Kendari, Ramah Anak dan Edukatif

1. Kebun Raya Kendari

Kebun Raya Kendari menjadi pusat konservasi tumbuhan terbesar di Sulawesi Tenggara. Kawasan seluas sekitar 96 hektare yang berada di Kelurahan Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, ini dikelola oleh Pemerintah Kota Kendari bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Berbeda dengan taman kota biasa, Kebun Raya Kendari dirancang sebagai konservasi ex-situ, yaitu tempat pelestarian tumbuhan di luar habitat aslinya. Di kawasan ini dikoleksi berbagai jenis tanaman khas Sulawesi, termasuk flora endemik Sulawesi Tenggara serta tanaman langka yang memiliki nilai ilmiah tinggi.

Di dalam Kebun Raya Kendari, pengunjung dapat menemukan berbagai fasilitas seperti:

  • Area koleksi tumbuhan endemik Sulawesi.
  • Rumah pembibitan (nursery) untuk perbanyakan tanaman.
  • Herbarium dan pusat dokumentasi tumbuhan.
  • Jalur interpretasi edukasi mengenai jenis-jenis flora.
  • Embung dan kawasan konservasi air.
  • Area penelitian bagi mahasiswa dan peneliti.
  • Ruang terbuka hijau untuk wisata edukasi keluarga.
  • Gazebo, jogging track, hingga area observasi alam.

Selain menjadi tempat rekreasi, Kebun Raya Kendari juga rutin dimanfaatkan sebagai lokasi penelitian botani, praktik lapangan mahasiswa, edukasi lingkungan bagi pelajar, hingga kegiatan penanaman pohon bersama komunitas.

Koleksi tumbuhannya terus bertambah melalui eksplorasi berbagai wilayah Sulawesi Tenggara sehingga diharapkan mampu menjadi bank plasma nutfah daerah dalam jangka panjang.

2. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan pusat konservasi alami terbesar di Sulawesi Tenggara yang membentang di Kabupaten Konawe Selatan, Bombana, Konawe, dan Kolaka Timur.

Kawasan ini memiliki berbagai tipe ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, rawa gambut, savana, hingga hutan pegunungan. Keanekaragaman habitat tersebut menjadikan kawasan ini rumah bagi banyak flora endemik Sulawesi. Beberapa tumbuhan yang masih dapat dijumpai antara lain berbagai jenis eboni (Diospyros celebica), rotan, damar, anggrek hutan, pandan hutan, hingga berbagai jenis palma endemik Sulawesi.

Sebagai kawasan konservasi, taman nasional ini memiliki fasilitas berupa pos penjagaan, jalur interpretasi, pusat informasi, area penelitian, camping ground, menara pengamatan satwa, serta lokasi edukasi bagi pelajar dan peneliti.

3. Cagar Alam Kakenauwe dan Kawasan Hutan Lambusango

Pulau Buton juga memiliki kawasan konservasi penting yang melindungi flora khas Sulawesi Tenggara, yaitu Cagar Alam Kakenauwe dan bentang alam Hutan Lambusango. Hutan Lambusango dikenal sebagai salah satu laboratorium alam terbaik di Indonesia karena masih memiliki hutan primer yang relatif utuh. Kawasan ini menjadi habitat berbagai jenis pohon besar seperti ulin, eboni, bitti, meranti Sulawesi, serta berbagai jenis anggrek epifit.

Selain menjadi tempat konservasi, kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi penelitian internasional mengenai keanekaragaman hayati Sulawesi.

Aktivitas Edukasi dan Ekowisata untuk Pengunjung

Pusat konservasi flora di Sulawesi Tenggara tidak hanya berfungsi menjaga tumbuhan, tetapi juga membuka ruang edukasi bagi masyarakat.

Di Kebun Raya Kendari misalnya, pengunjung dapat mengikuti tur edukasi mengenai klasifikasi tumbuhan, mengenal tanaman obat, belajar teknik pembibitan, hingga mengikuti kegiatan penanaman pohon pada momen tertentu seperti Hari Lingkungan Hidup dan Hari Menanam Pohon Indonesia.

Sementara itu, di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, pengunjung dapat melakukan pengamatan flora, fotografi alam, trekking ringan, hingga mengikuti program edukasi konservasi yang diselenggarakan Balai Taman Nasional.

Fasilitas yang Mendukung Konservasi

Setiap pusat konservasi memiliki fasilitas yang mendukung penelitian maupun kunjungan masyarakat. Di Kebun Raya Kendari tersedia koleksi tanaman berdasarkan zona, rumah pembibitan, area persemaian, laboratorium lapangan, jalur pejalan kaki, tempat istirahat, toilet, area parkir, serta ruang terbuka hijau yang nyaman untuk kegiatan edukasi.

Sementara di kawasan konservasi alami seperti Rawa Aopa Watumohai tersedia pos penjagaan, pusat informasi, jalur trekking, menara pengamatan, area berkemah, dan fasilitas pendukung penelitian lapangan.

Harga Tiket dan Jam Operasional

Kebun Raya Kendari umumnya dibuka setiap hari mengikuti jam operasional kawasan wisata milik pemerintah daerah. Pengunjung akan membayar tiket masuk sebesar Rp20.000 untuk mobil dan Rp5.000 untuk motor.

Untuk kawasan konservasi seperti Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, tarif masuk mengikuti ketentuan resmi Balai Taman Nasional. Wisatawan biasanya dikenakan tiket masuk sesuai kategori wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Aturan Selama Berkunjung
Sebagai kawasan konservasi, pengunjung diwajibkan menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak memetik tanaman, membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas, maupun membawa pulang bagian tumbuhan dari kawasan konservasi. Di beberapa area penelitian, akses pengunjung juga dibatasi agar koleksi tanaman tetap terjaga.

Rute Menuju Lokasi Konservasi

Kebun Raya Kendari berada di wilayah Nanga-Nanga dan dapat dijangkau sekitar 15-20 menit dari pusat Kota Kendari menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sementara Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai dapat diakses melalui Kabupaten Konawe Selatan maupun Bombana dengan waktu tempuh sekitar dua hingga empat jam dari Kota Kendari, tergantung pintu masuk yang dipilih. Dari Kota Kendari menuju Buton bisa menggunakan kapal malam dengan estimasi perjalanan 1 malam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

Author

Mufida

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU