SULTRA - Pulau Buton menyimpan banyak destinasi alam yang belum banyak diketahui wisatawan. Salah satu yang paling menarik adalah gunung di Buton yang menawarkan jalur pendakian dengan karakter berbeda, mulai dari perbukitan yang ramah bagi pendaki pemula hingga kawasan pegunungan yang memiliki nilai sejarah dan panorama laut dari ketinggian. Selain menjadi lokasi favorit pencinta alam, beberapa gunung di Buton juga menyimpan kekayaan hayati serta menjadi bagian penting dari bentang alam Pulau Buton.
Gunung Lambohogo, Ikon Pendakian Kota Baubau
Gunung Lambohogo merupakan salah satu gunung paling dikenal di Kota Baubau. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota sehingga menjadi tujuan favorit bagi warga yang ingin menikmati aktivitas hiking tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Jalur pendakian menuju puncak Lambohogo relatif jelas dan sudah sering digunakan komunitas pecinta alam. Pendaki akan melewati jalan setapak yang didominasi pepohonan tropis dengan beberapa tanjakan sedang. Waktu tempuh menuju puncak berkisar antara satu hingga dua jam, tergantung kondisi fisik dan titik awal pendakian.
Sesampainya di atas, pendaki dapat menikmati panorama Kota Baubau, Laut Banda, hingga Benteng Keraton Buton dari kejauhan. Waktu terbaik mendaki adalah pagi atau sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas.
Gunung Lakambau, Menawarkan Panorama Perbukitan dan Laut
Gunung Lakambau juga menjadi salah satu gunung di Buton yang mulai dikenal kalangan pencinta alam lokal. Jalur menuju kawasan ini melewati perkampungan warga sebelum memasuki area hutan dan perbukitan.
Karakter medannya didominasi tanjakan bertahap sehingga masih cukup bersahabat bagi pendaki dengan pengalaman dasar. Selama perjalanan, hamparan pepohonan hijau serta panorama pesisir menjadi pemandangan yang menemani pendakian.
Dari beberapa titik terbuka, pengunjung dapat menikmati bentangan laut biru yang mengelilingi Pulau Buton sekaligus melihat kontur wilayah dari ketinggian.
Gunung Wani, Jalur Pendakian yang Masih Alami
Gunung Wani menjadi alternatif bagi pendaki yang ingin menikmati suasana lebih tenang karena belum seramai destinasi pendakian lainnya. Jalurnya masih alami dan sebagian besar melewati kawasan hutan sekunder.
Pendakian menuju Gunung Wani membutuhkan pendamping atau pemandu lokal, terutama bagi pendaki yang baru pertama kali datang. Selain membantu menentukan arah perjalanan, pemandu juga memahami kondisi medan dan sumber mata air di sepanjang jalur. Keindahan alam yang masih terjaga menjadi daya tarik utama Gunung Wani. Dari beberapa titik puncak, pengunjung dapat menikmati lanskap perbukitan hijau yang membentang luas.
Persiapan Sebelum Mendaki Gunung di Buton
Meskipun sebagian gunung di Buton belum menerapkan sistem registrasi seperti taman nasional, pendaki tetap disarankan melakukan persiapan secara matang. Pastikan kondisi fisik dalam keadaan prima dan gunakan perlengkapan pendakian yang sesuai.
Bekal air minum, makanan ringan berenergi, jas hujan, senter, sepatu gunung, serta kotak P3K menjadi perlengkapan dasar yang sebaiknya selalu dibawa. Pendakian juga lebih aman dilakukan secara berkelompok dan menghindari perjalanan saat cuaca ekstrem.
Jika mendaki gunung dengan jalur yang belum populer, menggunakan jasa pemandu lokal menjadi pilihan yang bijak demi keselamatan.
Rute Menuju Lokasi Pendakian
Akses menuju gunung di Buton dapat dimulai dari Kota Baubau sebagai pintu masuk utama Pulau Buton. Wisatawan dari luar daerah dapat tiba melalui Bandara Betoambari atau Pelabuhan Murhum Baubau.
Gunung Lambohogo dapat dijangkau sekitar 15-30 menit dari pusat Kota Baubau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sementara Gunung Wakila, Gunung Lakambau, dan Gunung Wani memerlukan perjalanan lebih jauh menuju wilayah Kabupaten Buton dengan waktu tempuh yang bervariasi tergantung lokasi awal.
Sebelum berangkat, pendaki sebaiknya menghubungi komunitas pecinta alam atau warga setempat untuk memperoleh informasi terbaru mengenai kondisi jalur dan cuaca.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis, Wawancara