SULTRA - Air Terjun Moramo terletak di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Jaraknya sekitar 60-65 kilometer dari Kota Kendari dengan waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam.
Ciri khas alamnya adalah air terjun bertingkat yang terdiri atas tujuh undakan besar dan lebih dari enam puluh undakan kecil yang membentuk kolam alami alam dan bebatuan marmer yang membuat aliran air tampak bagai selendang halus di atas lantai batu. Uniknya, batuan dasar di Moramo sebagian besar marmer atau batuan kapur yang keras, sehingga bebatuan tidak licin memungkinkan pengunjung untuk berbagi ruang dengan derasnya air dalam kondisi yang masih relatif aman.
Baca juga: Kunjungan Gubernur Maluku Utara ke Ikon Wisata Kendari dan Konawe
Masyarakat lokal menceritakan bahwa lokasi air terjun ini dahulu sering menjadi tempat mandi bidadari yang turun dari langit. Legendanya menyebut bahwa kaum bidadari memilih air terjun ini sebagai tempat menyegarkan diri, dan bekas jejaknya konon bisa terlihat pada undakan air dan kolam-kolam alami.
Kisah tersebut meskipun tak tertulis formal secara ilmiah, telah menjadi bagian dari warisan lisan yang memberi nuansa mistis sekaligus menarik bagi wisatawan menjadikan Moramo bukan hanya tujuan alam, tetapi juga tempat yang kaya akan cerita budaya.
Baca juga: Desa Wisata Namu Wakili Sultra di Ajang Wonderful Indonesia Award 2025
Kenapa Air Terjun Moramo seringkali disebut Marmer Abadi? Ternyata, tanah di kawasan Suaka Alam Tanjung Peropa memiliki kandungan marmer yang besar menjadikan aliran air bukan hanya sekadar jatuh dari atas, tapi melewati lantai batu marmer yang menciptakan efek visual seperti tarian air di atas lantai kristal. Selain estetika, kondisi ini juga membuat trek ke air terjun cukup aman dibanding banyak lokasi lain yang bebatuannya sangat licin. Namun tetap, pengunjung disarankan berhati-hati karena kondisi alam selalu berubah.
Tips untuk Pengunjung
1. Gunakan alas kaki yang tidak licin karena walaupun bebatuannya keras, jalur bisa terasa licin saat basah.
2. Berangkat pagi atau sore agar pencahayaan alami mempercantik pemandangan undakan air dan meminimalisir keramaian.
3. Ikuti jalan setapak sekitar 1,2–1,4 km setelah parkir menuju lokasi utama, sebagian telah disemen atau dilebarkan, namun masih membutuhkan usaha jalan kaki.
4. Manfaatkan kolam alami untuk berendam sejenak
5. Hormati legenda dan alam, hindari membuat kebisingan berlebihan atau sampah. Kisah lokal dan kondisi lingkungan perlu dilestarikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis