SULTRA - Gunung Lambohogo, titik tertinggi di Pulau Buton, akhirnya resmi disambangi Tim Ekspedisi Atap Buton dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan). Enam mahasiswa yang terdiri dari lima anggota Mapala Teknik dan satu mahasiswa Teknik Pertambangan berhasil menjejakkan kaki di puncak, menancapkan plang penanda, serta mengibarkan Sang Merah Putih sebagai tanda keberhasilan mereka. Pendakian ini tidak hanya menjadi capaian bersejarah, tetapi juga sarana penelitian ilmiah terkait kondisi geologi dan ekologi di kawasan pegunungan tersebut.
Ekspedisi yang diketuai Dewa Samudra itu bukan tanpa hambatan. Gunung Lambohogo dikenal gersang tanpa sumber air permanen. Hal ini memaksa tim menyimpan sebagian logistik di Camp 1 dan melanjutkan perjalanan dengan persediaan terbatas. Saat berada di titik kritis, para pendaki terpaksa memanfaatkan cairan dari akar Liana untuk bertahan hidup. Keberuntungan baru datang ketika mereka menemukan mata air alami di ketinggian 950 meter di atas permukaan laut. Temuan ini sekaligus memberi data penting bagi penelitian, karena di sekitar titik tersebut juga teridentifikasi habitat satwa endemik anoa.
Baca juga: Prestasi Atlet Dayung dari Buton Utara: Dayumin Bawa 5 Medali dari China!
Selain tantangan air, tim ekspedisi juga mendokumentasikan sejumlah kondisi alam sepanjang jalur. Pada ketinggian 100 MDPL, mereka menjumpai banyak formasi batuan purba. Memasuki 400 MDPL hingga ke puncak, kawasan didominasi bentang kars yang khas. Jalur vegetasi relatif rapat hingga 500 MDPL, kemudian semakin renggang di atas 700 MDPL. Menjelang titik tertinggi, mereka melewati hutan lumut di 1.000 MDPL, yang menjadi penanda keunikan ekosistem di ketinggian tersebut.
Dukungan terhadap ekspedisi ini datang dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, unsur TNI-Polri di Wakorumba, Basarnas Baubau, hingga para senior Mapala Teknik. Semua pihak berharap pendakian ini memberi manfaat lebih luas dari sekadar pencapaian fisik. “Gunung Lambohogo tidak hanya sekadar puncak tertinggi Pulau Buton, melainkan menyimpan warisan geologi dan ekologi yang harus kita rawat bersama,” ujar Dewa menegaskan.
Baca juga: KM Tilongkabila Tabrak Karang di Selat Buton, Penumpang Panik dan Pelayaran Kembali ke Pelabuhan
Keberhasilan Tim Ekspedisi Atap Buton menjadi tonggak awal bagi pengembangan penelitian, konservasi, sekaligus peluang wisata alam berkelanjutan di Pulau Buton. Momentum ini diharapkan memantik kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kekayaan alam yang dimiliki daerah tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/infobuton